Kamis, 13 September 2012

Tak Miliki Jamkesmas, Tergolek karena Stroke


Padang- Setelah 45 hari melahirkan seorang putra, Gusneti Daryati, warga RT 1 RW 4 Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, mengalami stroke. Sudahlah miskin, Gusneti juga tidak memiliki kartu jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) dan jaminan kesehatan daerah (Jamkesda).
Sungguh malang deri­ta orang miskin di negeri ini. Mes­ki dari keluarga tidak mam­pu, Gusneti ternyata ti­dak terdaftar sebagai pene­rima Jamkesmas dan Jam­kes­da. Karena tidak punya biaya, wa­nita berusia 36 tahun ini harus menahan sakit di rumah. 
Untuk sewa mobil ke ru­mah sakit saja tak punya,  apa­lagi membayar biaya pengo­batan selama di rumah sakit.  Berkat solidaritas warga se­tem­pat, Gusneti akhirnya diru­juk ke RSUP M Djamil.
Ketika Padang Ekspres membesuk wanita yang akrab dipanggil Neti ini di rumahnya di RT 1 RW 4 Kuranji, Jumat (31/8), kondisinya mempri­hatinkan. Tidak ada kasur, selimut memadai, obat-obatan maupun makanan dan mi­num­an untuknya. Neti mende­rita stroke sejak Rabu (29/8).
Dia hanya tidur di selem­bar tikar. Di sisinya, tampak gelas-gelas kosong. Jendela ruangan itu hanya ditutup karung goni. Siang itu, Gusneti hanya sendiri di rumah. Anak­nya Dharma yang baru beru­mur 45 hari, diasuh oleh te­tang­ga. Seakan tahu akan pen­deritaan ibunya, anak itu ber­perilaku baik. Bayi itu tetap te­nang meski diletakkan di lantai teras rumah beralaskan kain panjang.
Yosrizal, 43, suami Neti, sat itu sedang keluar.
Pria yang sehari-hari di­pang­g­il Yos itu pergi mencari pinjaman uang dan membesuk ibunya yang juga sedang dira­wat di RS dr Reksodiwiryo Gan­ting. Tak hanya ibunya, anak­nya dari istri pertama ber­nama Danu Adrian, 18, juga se­dang dirawat di bagian pe­nyakit dalam RSUP M Djamil.
“Udanya (Yosrizal, red) sudah lhnglung. Selain istrinya sakit, ibu dan anaknya dari istri pertama juga sakit. Sementara dia hanya buruh di Pasaga­dang,” kata Feni, 32, tetangga Neti yang mengasuh anaknya.
Tiba-tiba Dharma me­na­ngis. Feni pun bingung kare­na tidak punya susu untuk bayi itu. Maklum, kehidupan Feni tak jauh berbeda dengan Neti. Penghasilan suaminya hanya pas untuk makan, tidak ada untuk tabungan.
Feni cob` mendekatkan Dharma pada ibunya yang ter­golek lemah. Namun apa da­ya, tidak ada air susu yang bi­sa diisap oleh Dharma. Akhir­nya beberapa warga datang me­ngumpulkan uang dan mem­beli susu bantu untuk anak berjenis kelamin laki-laki itu.
Sorenya, warga kembali me­ngumpulkan uang dan mem­bawa salah seorang bidan di kawasan itu untuk mengo­bati Neti. Namun bidan angkat tangan. Menurut bidan, Neti harus dirujuk ke rumah sakit. Bi­dan tersebut hanya bisa mem­berikan pertolongan beru­pa obat penurun panas dan multivitamin untuk me­nguat­kan tubuhnya.
Tak lama kemudian, suami Neti pulang. Kepada Padang Ekspres, dengan berurai air mata Yos menceritakan derita kehidupan keluarganya. Dia tidak punya apa-apa untuk mengobati istrinya. Semua barang berharga dan uang tabungannya telah habis. Ter­akhir, dia menjual handphone. “Saya ndak tahu akan menga­du ke mana lagi,” katanya.
Sabtu (1/9), warga sepakat mengantar Neti ke RSUP M Djamil. Namun, lagi-lagi mere­ka kebingungan. Tidak ada yang akan menjaga Neti mau­pun anaknya. Ketika itu, lagi-lagi Yos keluar rumah untuk bekerja. Sedangkan keadaan istrinya tambah parah.
Warga lalu mencari anak pertama Neti, Dayat, 16, yang sehari-hari bekerja di cucian mobil agar menjaga ibunya di RSUP. Sedangkan anaknya, Dharma diasuh tetangga.
Setelah diperiksa beberapa dokter spesialis di RSUP, Neti diduga mengalami stroke dan dirawat di ruang rawat inap syaraf wanita. Bagian badan di sebelah kirinya lumpuh. 
Ketika Padang Ekspres kembali membesuk Neti di RSUP, kemarin, kondisinya belum membaik. Tangannya dipasang infus, sedangkan hidungnya dipasang oksigen. Dia juga dipasangi kateter untuk buang air.
Neti terlihat gelisah. Tiap sebentar dia berusaha mem­bu­ka selang infus dan oksigen yang terpasang di tubuhnya. Sekali-sekali dia berusaha memeluk suaminya.
“Jangan tinggalkan Neti, Da. Neti sakit,” katanya de­ngan bahasa Minang yang terbata-bata.
Yos hanya bisa mengusap-usap kepala istrinya dan me­minta istrinya untuk sabar. “Ti­dak ada Uda tinggalkan Ne­ti. Iya, Neti harus sabar. Kare­na sakit makanya Neti dibawa ke rumah sakit. Tapi jangan di­lepas-lepas infusnya, biar ce­pat sembuh,” ujar Yos pada is­trinya sambil memberi mi­num air mineral.
Karena selalu gelisah dan melepas infus maupun oksigen yang melekat di tubuhnya, tangannya diikat. Namun, tubuhnya terus bergerak. Ka­dang dia miring ke kanan, lalu miring ke kiri. Bahkan, dia mengangkat kakinya ke atas. Perawat dan penjaganya jadi kewalahan. Sedikit saja diting­galkan, maka infus atau oksi­gen pasti sudah dilepasnya.
Neti masuk ke RSUP M Dja­mil Padang dengan status pa­sien umum. Walau peme­rin­­tah telah menyediakan ja­mi­nan kesehatan bagi keluarga tidak mampu, namun Neti ti­dak bisa menikmatinya. Ka­re­na dia tidak memiliki kartu Jam­­kesmas maupun Jam­kes­da.
Hidup Sebatang Kara
Informasi dari para tetang­ga, Neti dilahirkan di Sikaba­luan, Mentawai, 36 tahun lalu.
Saat duduk di kelas dua SD, seorang pedagang asal Pa­dang­pariaman di Mentawai mengangkatnya jadi anak. Dia lalu tinggal dan disekolahkan di Kayutanam, Kecamatan 2X11 Enam Lingkung Padang­pa­riaman. Namun, orangtua angkatnya itu meninggal du­nia. Dia pun terlunta-lunta.
Kondisi itu memaksanya untuk menikah muda. Namun, memiliki suami tak membuat hidup Neti berubah. Dia harus membanting tulang, bekerja mencari sayur pakis dan men­jualnya.
Sekitar dua tahun lalu, dia bercerai dan kemudian meni­kah dengan Yos yang kebetu­lan juga sudah menduda sela­ma tiga tahun.
“Sehari-hari dia biasa saja. Namun, memang dia mengaku sakit kepala berat sejak dua hari sebelum jatuh itu. Namun, dia tidak berobat ke bidan dan dokter, namun hanya minum obat di warung,” kata Nike, tetangganya.
Yos berharap ada yang pe­duli dan membantu pengo­ba­tan istrinya serta membantu me­mbelikan susu bantu untuk anak­nya yang masih berusia 45 hari.  Adakah yang peduli?
Sumber : http://manajemen-jaminankesehatan.net/index.php/78-berita/334-tak-miliki-jamkesmas-tergolek-karena-stroke

Tidak ada komentar:

Posting Komentar