Kamis, 07 Juni 2012

Antibiotik Terbanyak

Asep Candra | Jumat, 11 Mei 2012 | 07:43 WIB



Jakarta, Kompas - Ketergantungan impor bahan baku obat terbesar Indonesia adalah untuk pembuatan antibiotik. Sebagai negara yang menghadapi berbagai penyakit infeksi, antibiotik merupakan kebutuhan obat mendasar di Indonesia.
Impor bahan baku obat rentan terhadap perubahan harga, kualitas, dan kesinambungan pasokan. Padahal, obat merupakan komoditas berfungsi sosial dan menentukan hidup orang banyak. Saat ini, 96 persen bahan baku obat diimpor.
”Bahan baku obat yang terbanyak diimpor adalah untuk antibiotik. Obat itu banyak dibutuhkan masyarakat,” kata Wakil Sekretaris Jenderal Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia Kendrariadi Suhanda di sela acara pameran niaga bahan baku farmasi terbesar pertama di ASEAN, Convention on Pharmaceutical Ingredients Southeast Asia di Jakarta International Expo, Kamis (10/5).
Bahan baku itu 70-80 persen diimpor dari China dan India selama 10 tahun terakhir. Sisanya dari beberapa negara.
Selain antibiotik, obat yang juga banyak dibutuhkan seiring meningkatnya penyakit noninfeksi dan degeneratif adalah obat darah tinggi, gangguan jantung, pernapasan, dan diabetes.
Bahan baku obat-obatan itu banyak diekspor ke Indonesia, demikian Direktur Jenderal Pharmaceutical Export Promotion Council of India PV Appaji.
India juga mengekspor obat generik. Nilai ekspor bahan baku obat dari India ke Indonesia sekitar 45 juta dollar AS, nilai ekspor obat generik sekitar 12,5 juta dollar AS.
Investasi bahan baku
Kendrariadi mengatakan, jika memang hendak diundang investasi asing farmasi, lebih baik untuk industri bahan baku obat. Investasi asing diharapkan menyertakan perusahaan dalam negeri sebagai mitra. Produksi tidak hanya untuk pasar Indonesia, tetapi juga pasar Asia. Kapasitas produksi sangat menentukan kompetisi harga dan menjadi pertimbangan para investor asing.
 ”Jika bahan baku obat bisa diproduksi dengan harga kompetitif di Indonesia, harapannya harga obat bisa lebih murah,” kata Kendrariadi.
PV Appaji mengatakan, berkembangnya farmasi di India seperti saat ini butuh sekitar 40 tahun. Dulu, India mengalami masalah serupa Indonesia dalam mengatasi berbagai penyakit karena mahalnya harga obat.
Salah satu titik menentukan kemajuan industri farmasi ketika pemerintah dengan dukungan industri mendorong penggunaan dan produksi obat generik tahun 1970-an. Harga obat yang kian murah membuka akses masyarakat terhadap obat dan menciptakan pasar.
Saat ini, industri farmasi India berkontribusi sekitar 8 persen dari total produksi obat dunia dan mengekspor obat ke berbagai negara. Dari India pula, obat- obatan untuk program pengobatan global tuberkulosis, HIV/AIDS, dan malaria yang dilakukan berbagai organisasi internasional berasal. (INE)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar