Sabtu, 05 Mei 2012

8 Kelurahan di Wilayah Kecamatan Padang Selatan Sudah Stop Buang Air Besar Sembarangan

2012-04-21 17:04:36

Wakil Menteri Kesehatan RI Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, MSc.PhD mewakli Menteri Kesehatan RI pada senin 16 April 2012 mencanangkan 8 Kelurahan di wilayah Kecamatan Padang Selatan yaitu Batipuh Panjang, Tabing Banda Gadang, Balai Gadang, Gunung Sariak, Pegambiran, Kurao Pagang, Limau Manis, dan Padang Sarai yang sudah Stop Buang Air Besar  Sembarangan (SBS) di desa Parak Buruk Kelurahan Batipuh Panjang.
 
Menurut Menkes dalam sambutannya yang dibacakan oleh Wamenkes mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan momentum penting dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya perilaku sehat yang dimulai dari diri sendiri, keluarga dan komunitas sehingga dicapainya masyarakat Sumatra Barat khususnya dan lebih khususnya lagi kota padang serta masyarakat Indonesia pada umumnya yang mandiri untuk hidup sehat.
 
Disadari pula bahwa upaya promosi dan preventif merupakan upaya penanganan masalah di hulu yang tidak cepat terlihat hasilnya dibandingkan upaya kesehatan di hilir seperti mengobati orang sakit. Oleh karena  itu pelaksanakaan kegiatan ini hendaknya terus disosialisasikan pada semua masyarakat untuk menjadikan air minum dan sanitasi sebagai prioritas pemenuhan kebutuhan dasar serta upaya pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan perilaku higenis dan menumbuhkan rasa memiliki.
 
Selain itu Menkes sangat bangga atas semangat kuat pemerintah dan masyarakat khususnya kota padang dan umumnya Sumatra barat untuk meningkatkan derajat kesehatan di wilayahnya. Memperjuangkan pentingnya perilaku sehat dengan memenuhi kebutuhan akan sarana air minum dan sanitasi dasar melalui pemberdayaan masyarakat sesuai kearifan lokal setempat, dengan semangat kebersamaan kita akan berjuang menyelamatkan hidup anak-anak atau adik-adik kita untuk terhindar dari berbagai penyakit menular. Oleh karena itu Menkes  Menyeruhkan ajaklah masyarakat di sekitar kita untuk ikut membiasakan prilaku yang sederhana dan sekaligus menjadikannya sebagai perilaku hidup yang harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
 
“Saya menyambut baik acara ini karena menyangkut masalah mendasar dibidang kesehatan dan kebutuhan masyarakat akan air minum dan sanitasi yang merupakan wujud nyata dari upaya promosi dan preventif yang menjadi prioritas pemerintah dalam RPJMN 2010-2014 dan MDGs”, Ujar Menkes dalam sambutannya yang dibacakan oleh Wamenkes.
 
Oleh karena itu Menkes menyadari bahwa tujuan pembangunan kesehatan  tidak akan dapat tercapai hanya dengan upaya oleh sektor kesehatan saja apalagi hanya oleh Kementerian Kesehatan oleh karenanya dalam kesempatan yang baik ini Menkes mengharapkan kepada semua pihak di lingkungan pemerintahan kota padang, legeslatif, organisasi kemasyarakatan, organisasi profesi dan para mitra marilah bersama-sama masyarakat menyelanggarakan pembangunan kesehatan untuk mewujudkan masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan.

Menkes berpesan kepada masyarakat kota padang khususnya masyarakat kecamatan padang selatan dan kecamatan lainnya yang telah mendapatkan pelayanan air minum dan sanitasi agar apa yang telah dibangun bersama dapat terus dipelihara dan dikembangkan. Semoga allah swt meridhoi harta kita untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang lebih baik.
 
Pada kesempatan tersebut dilakukan pembacaan deklarasi Sudah Stop Buang Air Besar Sembarangan oleh kelurahan penerima sertifikat Stop Buang Air Besar Sembarangan dan penyerahan sertifikat serta penandatangan Naskah Deklarasi Stop Buang Air Besar Sembarangan oleh Wamenkes RI yang di dampingi oleh Dirjen PP dan PL, Walikota Padang dan Kadinkes Provinsi Sumatra Barat.
 


Dilakukan pula peninjauan sarana air bersih dan sanitasi serta penempelan striker Stop Buang Air Besar Sembarangan, Keluarga Sadar Gizi, dan Pengetahuan Komprehensif tentang HIV AIDS kerumah penduduk desa Parak Buruk Kelurahan Batipuh Panjang oleh Wamenkes bersama Dirjen PP dan PL Kemenkes RI, Walikota Padang, Kadinkes Provinsi Sumatera Barat, dan Kadinkes Kota Padang serta Direktur Penyehatan Lingkungan (PL) Ditjen PP dan PL Kemenkes RI.

Sumber : http://www.pppl.depkes.go.id/index.php?c=berita&m=fullview&id=573

Mengenal Antraks

2012-04-25 14:40:47

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL), Kemenkes, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama  SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE menyampaikan beberapa hal berkaitan dengan Antraks, sebagai berikut :

1. Penyebab : Bacillus anthracis
Basil antraks msh dapat ditemukan pd bangkai hewan setelah 3-4 minggu (bila suhu rendah dan lembab). Bila basil berhasil keluar dari bangkai hewan, di lingkungan lembab dapat cepat berubah jadi spora. Spora dapat bertahan hidup sampai puluhan tahun (bisa sampai 60 th) terutama di tempat kering. Di samping di tanah, spora bisa ditemukan di wool, kulit, bahan dari hewan lainnya yg dikeringkan.
Air susu hewan penderita antraks atau baru saja mati dpt mengandung basil antraks.

Dalam bentuk vegetatif, basil mudah mati dg dimasak, desinfektan, antiseptik, antibiotik. Sedang dalam bentuk spora lebih tahan, tetapi dg suhu 100'C (mendidih) akan mati dalam 10 menit; dg karbol 5% akan mati dalam 40 hari dan dg formalin 10% akan mati dalam 4 jam.

2. Masa inkubasi : 2-7 hari

3. Tipe antraks, tergantung cara penularannya yaitu :
a). antraks kulit: penularan lewat kulit yg lecet, luka, abrasi.
b). antraks pencernaan : infeksi melalui makanan atau minuman yg tercemar basil atau spora antraks. CFR tipe ini 25-75%, yg sering fatal. Penderita bisa meninggal  < 2 hari setelah onset, biasanya karena perdarahan intestinal dan peritonitis.
c). Tipe paru : infeksi melalui inhalasi, biasanya karena menghirup spora antraks. Tipe ini juga fatal, kematian bisa terjadi 2-3 hari setelah onset. Bentuk inilah yang ditakutkan digunakan dalam terorisme.
d). Tipe meningitis : dapat terjadi akibat komplikasi tipe antraks yang lain. Tipe ini juga fatal.

4. Diagnosis : berdasar klinis, epidemiologis dan laboratoris. Lab antara lain : swab ulkus (antraks kulit), kultur darah, tes serologis dan percobaan ke binatang (kultur/biakan disuntikkan ke binatang).

5. Terapi : basil antraks peka terhadap antibiotik. Bisa digunakan Procain Penicillin, penicillin G, tetrasiklin, amoksikslin, ampisilin, ciprofloksasin, doksisiklin selama 5-7 hari.

Demikian disampaikan oleh Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama dari Jakarta.

Sumber : http://www.pppl.depkes.go.id/index.php?c=berita&m=fullview&id=579

PELATIHAN NASIONAL EDUKATOR DIABETES INDONESIA

Jakarta, 21 April 2012


Menteri Kesehatan, diwakili oleh Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL), Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), MARS, DTM&H, DTCE membuka secara resmi Pelatihan Nasional Edukator Diabetes Indonesia yang ke 10 yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Edukator Diabetes Indonesia (PEDI) di Jakarta (20/4/12).

Kementerian Kesehatan  menyambut baik pelatihan ini, karena 4 hal, yang pertama Diabetes Mellitus (DM) merupakan masalah kesehatan penting di Indonesia, sebab DM merupakan penyebab kematian ke 6, prevalensi DM perkotaan 5,7%, dan prevalensi Toleransi Glukosa Terganggu 10,2%.

Alasan kedua karena pengendalian DM haruslah merupakan continum care, dimana edukasi merupakan salah satu faktor amat penting. Kemudian para mereka yang sudah dilatih akan langsung dapat menangani pasien DM dan keluarganya sehingga mereka dapat tetap sehat, bugar dan mandiri. Sedangkan yang terakhir adalah pelatihan ini merupakan bentuk nyata partisipasi aktif masyarakat kesehatan untuk bersama pemerintah menanggulangi masalah kesehatan di Indonesia, dalam hal ini Diabetes Mellitus.

Pelatihan berlangsung selama 3 hari dan diikuti lebih dari 200 peserta, terdiri dari dokter, perawat, diietesien, dan petugas lain. Pelatihan sudah berjalan 10 tahun dan mempunyai 3 tingkatan yaitu dasar, lanjut dan berkelanjutan. Metode pelatihan dalam bentuk : teori, loka karya, serta simulasi.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: (021) 52907416-9, faksimili: (021) 52921669, Pusat Tanggap Respon Cepat (PTRC): <kode lokal> 500-567 dan 081281562620 (sms), atau e-mail kontak@depkes.go.id
 
Sumber : http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/1894-pelatihan-nasional-edukator-diabetes-indonesia.html

Rabu, 02 Mei 2012

KEMENKES KUNJUNGI RS STROKE NASIONAL (RSSN) BUKITTINGGI

Jakarta, 21 April 2012

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan stroke merupakan penyebab kematian utama di Indonesia. Berdirinya Rumah Sakit Stroke Nasional (RSSN) di Bukittinggi (RSSN) diharapkan dapat menjadi pusat rujukan di bidang keilmuan, terutama dalam hal penanganan stroke, serta mampu menyebarkan ilmu ke kalangan kesehatan baik di Indonesia.

Demikian pernyataan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL), Kemenkes, Prof dr Tjandra Yoga Aditama saat meninjau RSSN di Bukittinggi (18/4/12).
Pada kesempatan tersebut, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama menyatakan, sebagai salah satu rumah sakit vertikal di bawah Kementerian Kesehatan, RSSN harus mampu memberi Pelayanan Prima bagi pasien dan masyarakat yang berkunjung.

“Tujuan utama rumah sakit adalah untuk memberi pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkannya,” ujar Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama.

Menurut Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, RSSN dapat mengadakan kegiatan “keluar dinding RS" sesuai prinsip <em>hospital without wall</em>.

“Kegiatan ini baik dalam bentuk keilmuan untuk membantu kalangan kesehatan disekitar RS, tapi juga dalam bentuk pelayanan bagi masyarakat di lapangan”, jelas Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama.

Selain itu, kepada jajaran Direksi dan staf RSSN, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama menyatakan, sebagai unit pelaksana teknis (UPT) Kemenkes RI, maka RSSN harus terus melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah setempat, baik Dinas Kesehatan maupun juga Pimpinan Daerah.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: (021) 52907416-9, faksimili: (021) 52921669, Pusat Tanggap Respon Cepat (PTRC): <kode lokal> 500-567 dan 081281562620 (sms), atau e-mail kontak@depkes.go.id

Sumber : http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/1897-kemenkes-kunjungi-rs-stroke-nasional-rssn-bukittinggi.html

PELATIHAN NASIONAL EDUKATOR DIABETES INDONESIA

Jakarta, 21 April 2012


Menteri Kesehatan, diwakili oleh Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL), Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), MARS, DTM&H, DTCE membuka secara resmi Pelatihan Nasional Edukator Diabetes Indonesia yang ke 10 yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Edukator Diabetes Indonesia (PEDI) di Jakarta (20/4/12).

Kementerian Kesehatan  menyambut baik pelatihan ini, karena 4 hal, yang pertama Diabetes Mellitus (DM) merupakan masalah kesehatan penting di Indonesia, sebab DM merupakan penyebab kematian ke 6, prevalensi DM perkotaan 5,7%, dan prevalensi Toleransi Glukosa Terganggu 10,2%.

Alasan kedua karena pengendalian DM haruslah merupakan continum care, dimana edukasi merupakan salah satu faktor amat penting. Kemudian para mereka yang sudah dilatih akan langsung dapat menangani pasien DM dan keluarganya sehingga mereka dapat tetap sehat, bugar dan mandiri. Sedangkan yang terakhir adalah pelatihan ini merupakan bentuk nyata partisipasi aktif masyarakat kesehatan untuk bersama pemerintah menanggulangi masalah kesehatan di Indonesia, dalam hal ini Diabetes Mellitus.

Pelatihan berlangsung selama 3 hari dan diikuti lebih dari 200 peserta, terdiri dari dokter, perawat, diietesien, dan petugas lain. Pelatihan sudah berjalan 10 tahun dan mempunyai 3 tingkatan yaitu dasar, lanjut dan berkelanjutan. Metode pelatihan dalam bentuk : teori, loka karya, serta simulasi.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: (021) 52907416-9, faksimili: (021) 52921669, Pusat Tanggap Respon Cepat (PTRC): <kode lokal> 500-567 dan 081281562620 (sms), atau e-mail kontak@depkes.go.id
 
Sumber : http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/1894-pelatihan-nasional-edukator-diabetes-indonesia.html