Minggu, 28 Oktober 2012

HINDARI KEMATIAN AKIBAT RABIES CUCI LUKA UNTUK PERTOLONGAN PERTAMA PADA GIGITAN


Penyakit Rabies atau anjing gila merupakan penyakit mematikan yang ditularkan lewat gigitan anjing. Untuk menghindari kematian, bila seseorang digigit hewan yang menderita rabies, tindakan pertama yang dilakukan adalah cuci luka secepatnya dengan air mengalir dan sabun atau deterjen selama 10-15 menit. Kemudian luka diberi antiseptik/ alkohol 70%, setelah itu segera bawa ke Rabies Center (Puskesmas atau Rumah Sakit) atau ke dokter untuk mendapatkan pengobatan selanjutnya. Hal itu dijelaskan Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang dr. Rita Kusriastuti, MSc. pada acara temu media di kantor Kemenkes Jakarta (13/8).

Saat ini rabies telah menyabar di 24 provinsi yaitu NAD, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, Sumsel, Bengkulu, Lampung, Banten, Jabar, Bali, NTT, Sulut, Gorontalo, Sulteng, Sultra, Sulsel, Sulbar, Kalsel, Kaltim, Maluku, Malut dan Kalteng. 

Penyakit ini juga kerap menimbulkan kejadian luar biasa (KLB). Tahun 2005 KLB terjadi di provinsi Maluku, Maluku Utara dan Kalimantan Barat, akhir tahun 2007, KLB terjadi di Banten. November 2008, KLB terjadi di Kab. Badung, Bali.

Di Pulau Nias, Sumatera Utara sampai dengan Juli 2010 terjadi 857 gigitan hewan penular rabies (GHPR), sekitar 815 diberi vaksin anti rabies, dan 23 diantaranya meninggal dunia. Di Bali, sejak kasus ini menyebar tahun 2008 di Kab. Badung, sampai bulan Agustus 2010 terdata 53.418 kasus GPHR, 83 diantaranya meninggal (4 orang tahun 2008, 26 orang tahun 2009, dan 53 orang tahun 2010).

Untuk menanggulangi itu pemerintah telah melakukan beberapa upaya. Di Nias, pemerintah bersama WHO mengirimkan vaksin anti rabies (VAR) 150 kuur, melakukan pelacakan kasus, membentuk tim koordinasi di semua kabupaten, membentuk Rabies Center di RSUD dan Puskesmas serta mengeliminasi dan vaksinasi anjing.

Di Bali, sejak tahun 2008 – 2010 diantaranya telah dikirimkan VAR sekitar 11.000 kuur, serum anti rabies (SAR) sekitar 20.000 vial, pembentukan 43 Rabies Center di seluruh Bali serta mensukseskan bulan vaksinasi anjing.

Menurut dr. Rita Kusriastuti, untuk mencegah penularan dilakukan vaksinasi rabies terhadap anjing, oleh Kementerian Pertanian dan Pemda Bali. Vaksinasi ditargetkan rampung pada 28 September 2010, bertepatan dengan peringatan Hari Rabies Sedunia 2010. Saat ini sudah dilakukan vaksinasi anjing sekitar 360.000 ekor dari perkiraan 500.000 populasi anjing di Bali.

Dengan demikian, sekitar 72% populasi anjing telah mendapatkan vaksinasi rabies, sehingga dapat melindungi sekitar 2,8 dari 4 juta warga Bali. "Vaksinasi anjing terus dilakukan di Bali, hingga target Bali bebas rabies pada 2012 tercapai," tambahnya.

Di Indonesia sampai Agustus 2010 sudah 113 orang positif terinfeksi penyakit rabies. Penyebaran virus rabies sulit dihentikan. Kecepatan penyebarannya tiga milimeter perjam. Tidak mengherankan bila angka kematian akibat penyakit ini mencapai 100%. Ciri-ciri yang terkena rabies korban akan merasa sakit di luka gigitan, setelah itu sakit kepala, takut cahaya, takut air dan sesak napas.

Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan rata-rata di Asia ada 50.000 kasus kematian akibat rabies pertahun. Kasus di negara Asia terbanyak ditemukan di India (20.000-30.000 kasus pertahun), Vietnam (rata-rata 9.000 kasus pertahun), China (rata-rata 2.500 kasus pertahun), Filipina (200-300 kasus pertahun) dan Indonesia (rata-rata 125 kasus pertahun). Di Indonesia rabies sebagian besar disebabkan gigitan anjing (98%) sementara sebagian kecil diebabkan oleh gigitan kera dan kucing (2%). 

Mengingat besarnya masalah rabies, forum Regional Zoonotic Meeting SEARO yang berlangsung di Jakarta pada November 2007 lalu, menetapkan rabies sebagai penyakit prioritas kedua setelah Avian Influenza.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-6506568, 021-500567, 30413700, atau alamat e-mail: info@infeksi.com , puskom.publik@yahoo.co.id , info@puskom.depkes.go.id , kontak@puskom.depkes.go.id

Sumber : http://www.infopenyakit.org/def_menu.asp?menuId=19&menuType=1

PERINGATAN HARI RABIES SEDUNIA



Jakarta, 9 Oktober 2012

Hasil sidang WHO SEARO pada November 2008 di Jakarta, menetapkan Rabies sebagai prioritas setelah Flu Burung (FB).

Demikian pernyataan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama pada peringatan Hari Rabies Sedunia (HRS), di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (9/10). Hadiri pada acara ini Gubernur NTT beserta jajaran pemerintah daerah provinsi, Bupati Floresta beserta jajaran pemerintah daerah kabupaten, Jajaran Kementerian Kesehatan yang terkait, Dirjen Peternakan beserta Jajaran Kementerian Pertanian yang terkait serta Komnas Pengendalian Zoonosis.
 
Hari Rabies Sedunia (HRS) jatuh pada tanggal 28 September. Sebelumnya, Indonesia telah 3 kali memperingati HRS, yakni pada tahun 2009 yang dilaksanakan di kabupaten Tabanan Bali; tahun 2010 di kabupaten Badung Bali dan tahun 2011 di Kota Denpasar Bali. Peringatan HRS kali ini d NTT mengambil tema "Tokoh Agama Peduli Rabies”.tema ini bertujuan meningkatkan komitmen Pemerintah Daerah dan peran serta masyarakat pada umumnya serta peran aktif tokoh agama pada khususnya dalam dalam program pengendalian Rabies menuju Indonesia Bebas Rabies 2020”.

Rabies  adalah penyakit menular akut yang menyerang susunan saraf pusat disebabkan oleh Virus (Lyssa virus), menyerang manusia dan hewan. Rabies ditularkan kepada manusia melalui gigitan atau jilatan pada luka terbuka oleh hewan yang menderita rabies. Penyakit ini bersifat fatal atau selalu diakhiri dengan kematian namun dapat di cegah.

Hewan yang dapat menularkan rabies adalah hewan berdarah panas terutama anjing, kucing, kera, dan kelelawar. Sapi, kambing dan domba dapat menderita apabila digigit oleh hewan penular rabies. Di Indonesia 98 % kasus rabies   ditularkan akibat gigitan anjing dan 2 % adalah akibat gigitan kucing dan kera.

Gejala rabies pada manusia biasanya diawali dengan demam, nyeri kepala, sulit menelan, hipersalivasi, takut air, peka terhadap rangsang angin dan suara, kemudian diakhiri dengan kematian.

Di Indonesia, rabies pada hewan sudah ditemukan sejak tahun 1884, dan kasus rabies pada manusia pertama kali ditemukan pada tahun 1894 di Jawa Barat. Jadi sesungguhnya penyakit ini sudah ada di Indonesia sejak lama. Sampai dengan tahun 2012 ini kasus rabies menyebar di 24 provinsi di Indonesia, dengan Provinsi Sulawesi Utara, Sumatera Utara, Bali, Maluku, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Bengkulu, Nusa Tenggara Timur, Lampung merupakan daerah ditemukan kasus rabies pada manusia. Hanya 9 provinsi yang masih dinyatakan sebagai daerah bebas yaitu Provinsi Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, NTB, Papua dan Papua Barat.

Rata-rata selama 5 tahun terakhir (2008 - 12 September 2012) tercatat di Kementerian Kesehatan, terdapat 44.981 kasus gigitan hewan penular rabies dan  40.552 kasus diantaranya mendapat Vaksin Anti Rabies dan sebanyak 51 orang positif rabies.

Sementara itu, situasi rabies di Prov. NTT dilaporkan dari tahun 2008 - September 2012 sebanyak 17.704 kasus gigitan hewan penular rabies, diantaranya 14.578 kasus mendapat Vaksin Anti Rabies dan 97 orang positif rabies (angka kematian 100%). Pada tahun 2012 sampai bulan September dilaporkan sebanyak 1.361 kasus gigitan hewan penular rabies, diantaranya 1.255 kasus mendapat Vaksin Anti Rabies dan 2 orang positif rabies (angka kematian 100%).

Upaya pengendalian rabies telah dilaksanakan secara terintegrasi oleh dua sektor yang bertanggungjawab yaitu sektor Peternakan untuk penanganan kepada hewan penular dan pengawasan lalu lintasnya, serta sektor Kesehatan untuk penanganan kasus gigitan pada manusia dan penderita rabies (lyssa).

Dengan telah diterbitkannya Perpres no 30 tentang Pengendalian Zoonosis yang multisektor dengan melibatkan 17 Kementerian dan Lembaga terlibat didalamnya, sehingga Pengendalian zoonosis terutama rabies dapat lebih efektif dan optimal sesuai harapan yakni Indonesia Bebas Rabies tahun 2020.

Pemerintah telah melakukan upaya untuk pengendalian rabies yaitu dengan Membuat buku pedoman pengendalian rabies; Advokasi sosialisasi lintas sektor/lintas program  terkait di tingkat daerah; Pembentukan/pengaktifan TIKOR (Tim Koordinasi) Rabies di setiap tingkatan; Pelatihan dan sosialisasi pd petugas kesehatan (dinkes, RS pemerintah/swasta, puskesmas); Pembentukan Rabies Center (pusat penanganan kasus gigitan hewan penular rabies/GHPR, bisa di Puskesmas atau RS); Penyelidikan epidemiologi dan surveilans aktif (pencarian kasus GHPR) secara terpadu; Workshop dan pertemuan expert Pengendalian Rabies; Meningkatkan capacity building petugas dengan mengikuti pelatihan-pelatihan di luar negeri; Pembuatan media penyuluhan rabies; serta melakukan komunikasi, edukasi dan informasi (KIE) kpd berbagai lapisan masyarakat.

Menurut Prof. Tjandra Yoga, pesan bagi masyarakat bila digigit hewan penular rabies (anjing atau lainnya) pertama kali adalah mencuci luka dengan air mengalir dan sabun selama 10 - 15 menit kemudian diberi antiseptik. Segera berobat ke Puskesmas/Rabies Center atau sarana kesehatan lainnya untuk mendapatkan pertolongan dan pengobatan selanjutnya serta vaksinasikanlah hewan peliharaan (khususnya anjing) secara berkala.

Peringatan HRS sedunia di NTT dimeriahkan dengan serangkaian acara,  antara lain talk show di Radio lokal, penyuluhan tentang Rabies, pelatihan petugas Rabies Center, jalan sehat dan senam sehat yang diikuti oleh berbagai lintas sektor, Misa syukur di gereja Paroki Nelle, dan lain-lain.

Pada acara puncak kali ini dilakukan penyerahan Vaksinasi Anti Rabies untuk hewan dan manusia; penyuntikan kepada vaksinator dan anjing masyarakat; penyerahan kesepakatan Roadmap Floresta menuju Bebas Rabies tahun 2017 oleh kepada Gubernur NTT; serta pemberian penghargaan kepada mereka yang telah berupaya dengan maksimal untuk pengendalian Rabies di Floresta.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jendral Kementrian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: (021)52907416-9, faksimili: (021)52921669, Pusat Tanggap Respon Cepat (PTRC): <kode lokal> 500-567 dean 081281562620 (sms), atau e-mail kontak@depkes.go.id

Sumber : http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/2081-peringatan-hari-rabies-sedunia.html

Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), Perilaku Sederhana yang Berdampak Luar Biasa SANITASI PENTING KARENA TURUT MENYELAMATKAN JIWA


Jakarta, 15 Oktober 2012
Hingga saat ini, masih banyak sekali anak-anak Indonesia yang meninggal karena diare, juga juga anak-anak yang kurang gizi karena cacingan. Selain itu, masih ada pula anak dan orang dewasa yang tertular dan meninggal karena terinveksi virus flu burung. Padahal, dengan melakukan perilaku sederhana, cuci tangan pakai sabun (CTPS) sebenarnya sudah dapat mengurangi risiko tertular penyakit-penyakit tersebut. Data WHO menunjukkan, perilaku CTPS  mampu mengurangi angka kejadian Diare sebanyak 45 persen. Telah dibuktikan juga bahwa CTPS dapat mencegah penyebaran penyakit kecacingan, serta mampu menurunkan kasus infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) dan Flu Burung hingga 50 persen. Sanitasi penting, karena turut menyelamatkan jiwa.

Demikian disampaikan Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, saat berdialig dengan 8 orang Duta Sanitasi Nasional pada peringatan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun (HCTPS) Sedunia ke-5 tahun 2012 di Kompleks Sekolah Dasar Negeri 04, 05 dan 06 Karet Pagi, Setiabudi, Jakarta Selatan (15/10). Kegiatan tersebut dihadiri pula oleh Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL) Kemenkes RI, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), MARS, DTM&H, DTCE; Perwakilan UNICEF untuk Indonesia, Angela Kearney; Perwakilan PT Unilever Indonesia, Tbk, dan Yayasan Adaro Bangun Negeri.

Kesembilan Duta Sanitasi tersebut yaitu Ilona Beatrix Hendrata (DKI Jakarta); Alin Mangintar Ridasari (DI Yogyakarta); Nadhifa Sekar Amalia (Sumatera Selatan); Syafrini Kristanti (Jawa Tengah); Nur Fitrah Aliyah Fauzi (Sulawesi Selatan); Muhammad Assaidana (Jawa Timur); Muhammad Rezki Akbar (Kalimantan Selatan)’ dan Mario Cebegai (Nusa Tenggara Timur).

Dengan penuh semangat, Menkes mengingatkan para siswa/i pentingnya perilaku CTPS. Cara ini, kata Menkes, sebagai upaya untuk menyelamatkan anak-anak Indonesia agar terhindar dari berbagai penyakit menular.
“Karena itu, biasakan cuci tangan pakai sabun (CTPS) pada waktu-waktu penting, yaitu sebelum makan, sebelum memegang/mengolah/menyiapkan makanan, setelah buang air besar, setelah menceboki anak, serta setelah kontak dengan hewan dan tanah. Selain itu, hendaknya membiasakan juga menggunting/membersihkan kuku secara teratur”, ujar Menkes.
“Karena itu, ajaklah teman-teman dan masyarakat di sekitar untuk membiasakan perilaku cuci tangan pakai sabun (CTPS), sebuah perilaku sederhana tetapi berdampak luar biasa. Hendaknya  CTPS senantiasa dijadikan sebagai kebiasaan, menjadi bagian dari PHBS yang  diterapkan dalam kehidupan sehari-hari”, kata Menkes.

Langkah untuk mewujudkan Indonesia bersih, sehat, dan berkualitas, dapat dimulai dari hal-hal sederhana di lingkungan rumah tangga, misalnya: Edukasi pada anak dan keluarga tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan; Peduli akan kondisi lingkungan sekitar dengan melakukan penghijauan di sekitar rumah; Menjaga kebersihan diri pribadi yang dimulai dengan membiasakan cuci tangan pakai sabun; serta mengajak anak-anak untuk membiasakan cuci tangan pakai sabun (CTPS) sejak usia dini. 
Selanjutnya, perwakilan UNICEF untuk Indonesia, Angela Kearney, memaparkan data WHO memperkirakan bahwa infeksi diare mengancam kehidupan 1,87 juta anak balita setiap tahun di seluruh dunia, membuat diare menjadi penyebab  kematian bayi dan balita kedua terbanyak setelah pneumonia. Di Indonesia, WHO memperkirakan, sekitar 31.200 anak balita meninggal setiap tahun karena penyakit ini. Setiap tahun, lebih dari 31.000 anak-anak di Indonesia tidak dapat merayakan ulang tahun kelima mereka karena penyakit yang sebenarnya dapat kita cegah dengan perilaku sederhana, cuci tangan pakai sabun (CTPS).

“CTPS dapat mengurangi hampir setengah kasus kejadian diare dan seperempat kasus infeksi pernafasan (termasuk pneumonia). Perilaku ini juga mengurangi risiko penyakit lainnya, seperti penyakit mata dan infeksi kulit. CTPS jelas merupakan cara yang paling efektif dan murah untuk pencegahan, namun banyak orang tidak mempraktekkannya”,  kata Angela.

Sementara itu, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes RI, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama menyatakan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun (HCTPS) Sedunia ke-5 tahun 2012 mengusung tema global “More Than Just a Day”, sedangkan tema nasional HCTPS kelima tahun ini adalah “Anak Sehat Dimulai dari Tangan Sehat”. 

“Perayaan pertama diinisiasi UNICEF pada tahun 2008, dilakukan di 21 negara (termasuk Indonesia). Setelah itu, setiap tahun, Indonesia terus melaksanakan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun (HCTPS)”, kata Prof. Tjandra.
Prof. Tjandra juga menambahkan, kampanye CTPS bersifat nasional dan dilaksanakan di seluruh Indonesia, sesuai dengan Surat Edaran Menkes RI No.PM/MENKES/299/VII/2012 tentang Himbauan Penyelenggaraan HCTPS Sedunia ke-5 tahun 2012 kepada seluruh Provinsi, Kabupaten/Kota. Serangkaian kegiatan telah dilaksanakan, antara lain: Lomba Foto CTPS secara online melalui media jejaring sosial Facebook; Talkshow Menkes dan Duta Sanitasi bertema Apresiasi Budaya CTPS (27/9); Seminar Strategi Pengendalian Kecacingan dan Perilaku CTPS di Kantor Kementerian Kesehatan (10/10); serta Seminar Advokasi Peran Media dalam Perilaku CTPS (12/10). 

Pada kesempatan tersebut, Prof. Tjandra juga menyerahkan penghargaan dan hadiah kepada masing-masing Pemenang Kompetisi Foto Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) 2012. Juara I diraih oleh Erlangga Djati dari Surakarta; Juara II diraih Hafidz Dwi Fahmi dari Depok; dan Juara III diraih oleh Ari Infanto dari Medan. Foto bertema CTPS, sebelumnya telah diunggah oleh para peserta di facebook Hari Cuci Tangan Pakai Sabun 2012. Para finalis dipilih berdasarkan “like” terbanyak. Selanjutnya, terdapat tiga syarat utama dalam penentuan pemenang, antara lain implementasi (bukan seremoni), terdapat air mengalir dan busa sabun. 

Sementara itu, Kepala Sekolah Dasar Negeri 05 Karet, Setiabudi, Suharso, menyampaikan bahwa sebuah kehormatan besar, penyelenggaraan perayaan HCTPS 2012 dapat diselenggarakan di lingkungan sekolah mereka. Dalam laporannya, beliau menyatakan SDN 05 Karet Setiabudi kekurangan sarana buang air kecil/besar. Dengan semangat gotong royong, Menkes bersama Pemerintah Daerah setempat dan mitra swasta menggalang bantuan secara langsung untuk pembangunan tambahan sarana toilet, air bersih, sabun, dan bibit untuk penghijauan.

Pada kesempatan yang sama, juga dilakukan penyerahan Donasi PT Unilever Indonesia kepada SD 05 Karet Setiabudi, Jakarta, berupa fasilitas kebersihan; Plan International kepada SDN Ngombak, berupa rehabilitasi total dua buah SD Negeri di Desa Ngombak, Grobogan, Jawa Tengah; USAID High Five kepada SD Inpres Barayya 2,Lembo, Makassar; Yayasan Adaro Bangun Negeri kepada SMPN 2 Tanta, Kab. Tabalong, Kalimantan Selatan, berupa pelaksanaan school improvement programme, termasuk sarana sanitasi, CTPS, dan pendampingan UKS.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jendral Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: (021)52907416-9, faksimili: (021)52921669, Pusat Tanggap Respon Cepat (PTRC): <kode lokal> 500-567 dean 081281562620 (sms), atau e-mail kontak@depkes.go.id

Sumber : http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/2086-cuci-tangan-pakai-sabun-ctps-perilaku-sederhana-yang-berdampak-luar-biasa-sanitasi-penting-karena-turut-menyelamatkan-jiwa.html

Alternatif Cuci Tangan Tanpa Air & Sabun


MINGGU, 28 OKTOBER 2012 10:08 wib
Niken Anggun Nurani - Okezone


PENYEBARAN bakteri memang sangat cepat. Dalam waktu empat jam saja, satu sel bakteri dapat berkembang hingga jutaan. Dan tangan merupakan tempat dengan bakteri yang sangat banyak.
 

Tangan kita banyak menyentuh benda dan permukaan. Tentu kontaminasi akan banyak terjadi melalui tangan kita. “Saat kita menyentuh banyak hal, akan ada banyak bakteri yang hidup di telapak tangan kita. Bakteri-bakteri ini bisa saja masuk dalam tubuh ketika kita menyentuh mata, hidung, atau mulut,” tutur Anis Karuniawati, Sp. MK, Ketua Laboratorium Mikrobiologi FKUI dalam acara bertema Rumah dengan Kuman atau Tanpa Kuman di Balai Kartini, Jakarta, baru-baru ini.
 
Salah satu cara menaggulangi penyebaran kuman dengan mencuci tangan. Namun, bagaimana jika tidak ada air dan sabun? Apakah cukup dengan menggunakan hand sanitizer?
 
“Tentu air dan sabun yang kita perlukan agar terbebas dari bakteri di tangan, penggunaan hand sanitizerjuga dapat membantu karena terkadang air yang kita gunakan untuk membilas saat mencuci tangan pun mengandung bakteri,” jelas Anis.
 
Penggunaan hand sanitizer ini bisa menjadi pilihan yang baik jika Anda ingin membersihkan tangan dari bakteri. Keuntungannya adalah Anda tidak perlu repot mencari air dan sabun saat Anda sedang tidak berada di rumah atau tempat yang tidak tersedia air dan sabun.
 
“Tentu penggunaan hand sanitizer ini hanya untuk tangan yang tidak dipenuhi dengan kotoran, misalnya tanah, jika kondisinya seperti ini, tentu air dan sabun yang lebih baik Anda gunakan,” katanya. (ina)
(tty)

Sumber : http://health.okezone.com/read/2012/10/28/486/710117/alternatif-cuci-tangan-tanpa-air-sabun

Kamis, 25 Oktober 2012

Bahayanya Tidak Cuci Tangan Setelah Menggunakan Toilet


Kamis, 25/10/2012 07:28 WIB

Karina Mahardi - wolipop




Jakarta - Kulit manusia bisa menjadi tempat bersarangnya bakteri, virus dan jamur yang dapat menyebabkan penyakit, baik melalui pernafasan atau sentuhan. Coba bayangkan, betapa berisikonya penularan bakteri akibat penggunaan toilet secara bergantian.

Penularan tersebut pun dapat bertambah parah jika Anda tidak mencuci tangan setelah menggunakan toilet. Berikut adalah penyakit yang disebabkan akibat tidak mencuci tangan setelah memakai toilet, seperti dilansir dari Live Strong.

1. Penyakit Tangan, Kaki, dan Mulut
Penyakit tangan, kaki, mulut atau disebut juga flu Singapura adalah penyakit yang disebabkan oleh virus coxsackie yang menular melalui kontak langsung, makanan, maupun kotoran. Penyakit yang umumnya menyerang bayi dan anak-anak ini, dimulai dengan adanya gejala seperti benjolan yang tampak melepuh pada mulut, telapak tangan dan kaki. Untuk mencegahnya, cucilah tangan setelah menggunakan toilet untuk mencegah penularan virus.

2. Hepatitis A
Penyakit infeksi hati yang ditandai dengan gejala seperti kelelahan, kulit menguning, warna urin gelap, mual, dan muntah ini dapat menular melalui virus. Penularannya bisa terjadi ketika seseorang yang terkontaminasi virus hepatitis A, tidak mencuci tangannya setelah menggunakan toilet lalu memegang makanan yang akan dikonsumsi orang lain. Tetapi infeksi ini juga bisa ditularkan melalui kontak langsung.

3. Shigellosis
Shigellosis (disentri Basiler) adalah infeksi usus yang menyebabkan diare hebat. Infeksi menyebar melalui kotoran orang yang terinfeksi. Sigelosis ditandai dengan gejala berupa diare, kram perut, dan demam. Kadang juga gejala tersebut berkembang menjadi disentri, kotoran berisi lendir, darah, dan nanah.

Orang bisa terinfeksi bakteri ini saat duduk. Bakteri dapat menyebar dari orang yang terinfeksi mencemari air atau makanan, atau langsung kepada orang lain. Shigellosis umum terjadi di antara para pelancong di negara berkembang dan pekerja atau penduduk kamp-kamp pengungsi.

4. Giardiasis
Penyakit yang menyerang usus ini ditandai dengan gejala seperti buang gas, kram, dan diare. Penularan terjadi melalui minuman atau makanan yang terkontaminasi atau melalui tangan yang menyerntuh kista Giardia misalnya, tangan perawat yang tidak dicuci setelah penggantian popok pasien. Penyembuhan dapat dilakukan dengan pengobatan metronidazole selama lima sampai sepuluh hari.

(eya/eny)


Sumber : http://wolipop.detik.com/read/2012/10/25/072812/2072364/1135/bahayanya-tidak-cuci-tangan-setelah-menggunakan-toilet?991104topnews