Sabtu, 28 Juli 2012

LANGKAH CERDIK MENCEGAH PENYAKIT TIDAK MENULAR (PTM)



Jakarta, 3 Juli 2012

Untuk menanggulangi Penyakit Tidak Menular, diperlukan langkah CERDIK, yaitu Cek kesehatan secara berkala; Enyahkan asap rokok; Rajin beraktifitas fisik; Diet yang baik dan seimbang;Istirahat yang cukup; dan Kelola stress.
Demikian disampaikan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL) Kemenkes RI, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama  SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE, pada pembukaan kegiatan Pertemuan Project Management Course of Tobacco Control, di Bandung (3/7). Peserta pertemuan terdiri dari petugas Dinas Kesehatan, LSM dan Universitas dari berbagai kota di Indonesia.
Dalam sambutannya, Prof. dr. Tjandra menyatakan bahwa Rokok merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit tidak menular (PTM) yang menyebabkan penyakit dan adiksi (ketagihan). Aspek “kebiasaan” atau “budaya” juga disebut-sebut menjadi hal yang mempengaruhi masih sulitnya mengubah perilaku merokok di masyarakat.


Menurut Prof. dr. Tjandra, metode penanggulangan masalah merokok sudah teruji. Namun, masih dibutuhkan upaya perluasan dan konsistensi di dalam penerapannya. Hingga saat ini, pendapat-pendapat “berbeda” seringkali muncul dan harus segera ditangani dengan peningkatan pengetahuan, advokasi, komunikasi sosial, dan melibatkan sebanyak mungkin tokoh dan komponen masyarakat.


Pada kesempatan tersebut, Prof. dr. Tjandra mengharapkan agar hasil yang didapatkan dari pelatihan tersebut dapat diterapkan di lingkungan para peserta pertemuan, dan dibuat indikator proses dan output keberhasilannya.


Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: (021) 52907416-9, faksimili: (021) 52921669, Pusat Tanggap Respon Cepat (PTRC): <kode lokal> 500-567 dan 081281562620 (sms), atau e-mail kontak@depkes.go.id

CHRONIC TOTAL OCCLUSION (CTO) TANTANGAN BAGI PARA AHLI JANTUNG SAAT INI



Jakarta, 7 Juli 2012

Salah satu penanganan penyakit jantung koroner ialah melalui cara non bedah dengan melebarkan pembuluh darah, prosedur penanganan ini dinamakan intervensi koroner perkutan (Percutaneus Coronary Intervention/PCI). Di seluruh Indonesia diperkirakan lebih dari 10.000 penanganan dilakukan tiap tahun dan akan semakin banyak dari tahun ke tahun seiring dengan semakin banyaknya fasilitas dan tenaga intervensi yang tersedia di seluruh Indonesia. Sepanjang tahun 2011 tercatat 2.100 penanganan telah dilakukan di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita. 






Chronic Total Occlusion (CTO) adalah suatu keadaan dimana pembuluh darah koroner telah tertutup sepenuhnya oleh tumpukan lemak dan kapur yang mengeras dalam waktu lama. Kondisi tersebut akan menyulitkan para dokter dalam usaha untuk menembus dan melebarkan sumbatan yang ada. 


Merupakan sebuah tantangan bagi para ahli jantung di seluruh dunia untuk menggunakan metode non bedah dalam menangani CTO. Banyak teknik dan alat yang telah dikembangkan secara khusus untuk mencoba mengatasi masalah tersebut. Penanganan CTO dengan metode non bedah kerap kali dilakukan di Jepang, sementara di Indonesia terbilang jarang dikarenakan kompleksnya kasus dengan teknik dan teknologi yang dihadapi.

Untuk memperkenalkan metode tersebut, khususnya dokter ahli jantung di Indonesia, maka Perhimpunan Intervensi Kardiologi Indonesia (PIKI) dan Perhimpunan Kardiologi Indonesia (PERKI) bekerjasama dengan Pusat Jantung Nasional (PJN) Harapan Kita menyelenggarakan 2nd Indonesia CTO Meeting pada 30 Juni dan 1 Juli 2012. Acara diikuti oleh sekitar 150 orang ahli kardiologi intervensi dari seluruh Indonesia dan beberapa dokter dari Malaysia. 


Acara terdiri dari demonstrasi langsung (Live Demo) dari ruang kateterisasi PJN Harapan Kita ke ruang Auditorium, diselingi dengan seminar tentang penerapan metode intervensi yang akan digunakan. Terdapat 2 orang pakar dari Jepang, yaitu dr. Yamane dan dr. Hamazaki, di samping pakar dalam negeri seperti Prof. Dr. dr. Teguh Santoso, Sp.PD, Sp.JP, Dr. dr. M. Munawar, Sp.JP dan dr. Sunarya Soerianata, Sp.JP. Para pakar tersebut melakukan tindakan intervensi pada 10 kasus CTO yang telah dipersiapkan sebelumnya secara live, sambil berdiskusi bersama peserta acara di ruang auditorium.


Kegiatan 2nd Indonesia CTO Meeting diharapkan dapat menambah wawasan dan kemampuan para ahli kardiologi intervensi dalam melayani pasien penyakit jantung koroner di Indonesia. 


Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: (021) 52907416-9, faksimili: (021) 52921669, Pusat Tanggap Respon Cepat (PTRC): <kode lokal> 500-567 dan 081281562620 (sms), atau e-mail kontak@depkes.go.id

HARI HEPATITIS SEDUNIA 2012: Menkes Minta Dokter Jangan Buat Bingung Pasien


Rahmayulis Saleh
Sabtu, 28 Juli 2012 | 16:14 WIB

JAKARTA: Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi menginstruksikan kepada para dokter dan tim medis agar tidak membuat bingung pasien, tentang tatalaksana pengobatan yang akan yang akan dilakukan kepada penderita.

"Saya instruksikan kepada semua dokter untuk benar-benar memahami penyakit yang diderita pasien, sehingga tidak terjadi tarik ulur diantara dokter mengenai apa tindakan yang akan dilakukan kepada pasien, termasuk kepada penderita hepatitis," ujar Menkes pada Puncak Peringatan Hari Hepatitis Sedunia ke-3, di Kantor kemenkes hari ini.

Menkes memberi contoh seperti yang dialami oleh Dahlan Iskan, Menteri BUMN, yang kena kanker hati dan ketika tatalaksana pengobatannya menurut tim dokter di Singapura hatinya harus dibuang semua. Sementara menurut tim dokter di China cukup dipotong saja hati yang rusak.

"Hal itu akan membuat pasien bingung, mana yang harus diikuti. Untuk itu saya minta kepada semua tim dokter di Indonesia agar bekerja lebih hati-hati dan benar, sehingga pengobatannya juga tepat," ungkap Nafsiah yang didampingi Dahlan Iskan.

Menkes menuturkan penyakit hepatitis bisa dicegah dan diantisipasi, caranya dengan melakukan imunisasi hepatitis sejak bayi. Selain itu juga menjalani hidup bersih dan sehat, dan menjauhi risiko penularannya.

"Kalau dari awal sudah bisa dicegah, maka akan banyak masyarakat yang terhinda dari penyakit hepatitis. Tapi kalau sudah tertular penyakit ini menjadi sirosis hati dan kanker hati, biayanya bisa mahal. Karena itu cegahlah sejak dini," ungkap Nafsiah.

Pada peringatan Hari Hepatitis Sedunia 2012 ini juga diadakan seminar bertema Ibu, Mari ikut peduli hepatitis, yang diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai organisasi kewanitaan seperti ibu-ibu SIKIB, Dharma Wanita, Muslimat NU, dan jajaran Kemenkes.(api)


Jumat, 27 Juli 2012

Menu Sahur Anti Lemas, Kurangi Karbohidrat Tambah Protein

Luhur Hertanto - detikHealth



Jakarta, Selama bulan ramadan, apakah Anda merasa merasa sering jadi lekas mengantuk dan lemas ketika beraktivitas? Bila ya, barangkali karena menu sahur dan berbuka puasa Anda yang kurang tepat komposisinya.

Berikut ini ada saran dari Ketua Tim Dokter Kepresidenan, Dr Aris Wibudi, tentang komposisi menu sahur dan berbuka puasa yang tak membuat cepat mengantuk dan tentu saja sehat.

"Prinsipnya tidak boleh kurang protein dan jangan fokus kepada karbohidrat," ujar Dr Aries.

Kepada detikHealth yang menemui di sela-sela rapat kabinet di Kantor Kejaksaan Agung RI, Jl Sultan Hasanuddin no.1, Jakarta, Rabu (25/12/2012), sebelumnya Dr Aries menggarisbawahi dalam keadaan berpuasa maka otomatis waktu tidur berkurang. Terutama bagi yang selepas sahur harus berangkat bekerja dan kembali tiba di rumah pada larut malam.

Karena kurang tidur, maka tidak mengherankan bila kemudian pada tengah hari jatuh mengantuk. Tapi dengan menambah porsi sayuran dalam menu sahur, maka peluang mengantuk itu bisa dikurangi.

"Porsi sayurnya sebaiknya dua kali lipat nasi. Dengan lebih banyak sayuran dalam perut, penyerapan glukosa akan dihambat sehingga tidak lekas mengantuk," paparnya.

Jenis nasi yang dikonsumsi juga perlu jadi perhatian. Dr Aries yang tiga bulan pensiun dari TNI AD dengan pangkat Letnan Jendral ini tidak merekomendasikan jenis nasi putih, nasih kebuli maupun nasi uduk sebagai menu sahur Anda.

"Sebab beras putih itu glukosanya cukup tinggi sehingga malah bikin ngantuk dan cepat lapar, seperti juga roti. Lebih baik beras merah," jelasnya.

Sementara untuk mencegah badan lemas kurang tenaga, menurut Dr Aries tidak perlu mengkonsumsi kapsul suplemen tertentu. Cara yang lebih efektif adalah dengan menambahkan sumber protein tapi menghindarkan daging hewan di dalam menu sahur Anda. 

"Sumber protein yang baik adalah daging ikan, kalaupun unggas pilih bagian dada. Dengan protein yang cukup, maka metabolisme tubuh lancar buntutnya tidak cepat lelah atau lemah," saran Dr Aries.

Makanan yang Sebaiknya Dihindari Saat Sahur

Merry Wahyuningsih - detikHealth






Jakarta, Jangan malas bangun sahur karena ini penting untuk menjaga stamina tubuh saat tak mendapat asupan apa-apa sepanjang hari. Tapi sebaiknya jangan asal makan saat sahur karena bisa menyulitkan sistem pencernaan atau membuat puasa menjadi lebih berat.


Untuk tetap sehat selama Ramadan, tubuh harus mendapatkan jumlah normal makanan dari kelompok makanan utama, seperti karbohidrat (nasi merah, roti gandum, ubi, kentang), susu dan produk susu, ikan, daging dan unggas, kacang-kacangan, buah dan sayuran.


Mengingat panjangnya waktu puasa, maka Anda harus mengonsumsi karbohidrat kompleks pada saat sahur, sehingga makanan berlangsung lebih lama (sekitar 8 jam) dan membuat Anda tidak terlalu lapar di siang hari.


"Karbohidrat kompleks ditemukan dalam makanan yang mengandung biji-bijian dan seperti barley, gandum, oat, millet, semolina, kacang-kacangan, lentil dan tepung gandum," jelas Dr Liza Thomas, dokter penyakit dalam di Canadian Specialist Hospital, seperti dilansir KhaleejTimes, Senin (23/7/2012).


Yang juga penting diperhatikan adalah minum banyak air dan serat selama sahur dan juga setelag berbuka puasa.


Selain makanan yang dianjurkan, Dr Liza juga menjelaskan beberapa makanan yang sebaiknya dihindari saat sahur, antara lain:
1. Makanan berlemak dan gorengan
2. Makanan pedas dan kalengan
3. Makanan yang mengandung banyak gula dan karbohidrat olahan
4. Minuman yang mengandung kafein seperti kopi, teh, soda dan lainnya.


"Makanan yang digoreng, makanan yang sangat pedas dan makanan yang mengandung terlalu banyak gula seperti permen dapat menyebabkan masalah kesehatan dan harus dibatasi selama bulan Ramadan. Makanan-makanan ini dapat menyebabkan gangguan pencernaan, nyeri ulu hati dan masalah berat badan. Sedangkan minuman kafein harus dihindari terutama saat sahur," tegas Dr Liza.


Sumber ; http://health.detik.com/read/2012/07/23/193035/1972815/766/makanan-yang-sebaiknya-dihindari-saat-sahur