Sabtu, 03 November 2012

Ini Propinsi yang Paling Banyak Warga Terpasung


Malu banget, pemerintah getol-getolnya kampanye anti pelanggaran HAM tapi di berbagai daerah masih saja ada orang yang dipasung seumur hidupnya dengan berbagai alasan.
Entah karena sakit jiwa, karena cacat, karena perangainya aneh dan macam-macam lainnya. Tapi apapun alasannya, Kementerian Kesehatan tegas mematok program bahwa Indonesia harus bebas dari rakyat yang dipasung pada 2014. Sayangnya, target ini pun terkendala.
"Awalnya kita targetkan 2014, Indonesia bebas pasung. Namun hingga saat ini, baru tercatat 2800 (orang dipasung) dari 17 provinsi yang melaporkan ke Kementerian Kesehatan," tutur Diah Setia Utami, Sp.KJ, MARS sebagai Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan di Jakarta, Jumat (5/10/2012).
Provinsi yang telah melaporkan mengenai jumlah yang dipasung adalah Jawa Tengah dan Aceh. Saat ini Kementerian Kesehatan memperkirakn jumlah orang yang dipasung sekitar 20 ribu.  "Mungkin 2019-2020 mendatang kita baru akan nyatakan Indonesia bebas pasung," katanya.
Berbagai alasan yang menyebabkan dipasung. Umumnya keluarga merasa malu mempunyai anggota keluarga yang mengalami gangguan kejiwaan, beranggapan penyakit karena kesurupan dan ketidakmampuan biaya. (Eko Sutriyanto)
Sumber : http://www.tribunnews.com/2012/10/05/ini-propinsi-yang-paling-banyak-warga-terpasung

Kecanduan Internet Digolongkan Jadi Penyakit Mental

Aliza Marcella
Sabtu, 3 November 2012 07:01 WIB





Kadang-kadang kecanduan internet bisa berakibat kematian

AUSTRALIA, Jaringnews.com - Internet telah menjadi bagian dari kehidupan modern. Di kantor, di rumah dan bahkan di kamar tidur, banyak orang merasa perlu untuk selalu terhubung ke internet. Hati-hati dengan kebiasaan ini, Anda bisa terserang penyakit kecanduan internet.

International Encyclopedia of the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV) telah memasukkan kecanduan internet sebagai suatu penyakit. Gangguan mental ini disebutkan perlu penelitian lebih lanjut.

Para psikolog mengatakan bahwa kecanduan internet sangat mirip gejalanya dengan gejala untuk kecanduan lainnya. Hal ini menyebabkan depresi emosional, kesulitan konsentrasi, dan menimbulkan sikap apatis.

Seseorang yang 'berselancar' berlebihan di internet akan lebih suka berada di depan layar komputer, gadget atau tablet daripada bertemu langsung dengan orang lain. Kadang-kadang kecanduan internet bisa berakibat kematian. Beberapa waktu lalu, seorang penggemar internet di Taiwan menghabiskan waktu di depan komputer selama 40 jam nonstop ditemukan tewas.

Dilansir Genius Beauty (1/11), Australia adalah salah satu negara pertama yang mengakui bahwa kecanduan internet merupakan penyakit. Ahli setempat percaya bahwa kelompok yang paling berisiko meliputi anak-anak, yang memang sangat doyan pada game komputer.


Sumber : http://jaringnews.com/hidup-sehat/umum/26669/kecanduan-internet-digolongkan-jadi-penyakit-mental

Terlalu Lama Duduk, Sehatkah?

Selasa, 16 Oktober 2012 09:39 WIB
Syahrial Mayus




"Kita bisa rapat sambil berdiri, berjalan ketika istirahat makan siang, atau mengurangi nonton TV pada malam hari untuk mengurangi durasi duduk," Profesor Stuard Biddle

INGGRIS, Jaringnews.com - Perilaku duduk, seperti menonton TV dan menyetir, di zaman modern memang sulit dihindarkan. Duduk dalam jangka waktu panjang bisa meningkatkan risiko diabetes, penyakit jantung, dan kematian seperti terungkap dalam sebuah kajian ilmiah.

Periset di Universitas Leicester dan Universitas Loughborough, Inggris, mengatakan risiko tetap tinggi biarpun orang mengingmbangi dengan olahraga. Laporan itu,  diterbitkan di jurnal kesehatan Diabetologia, menganalisa 18 penelitian yang melibatkan hampir 800.000 orang.

Menurut kajian yang dilakukan, peluang untuk perilaku sedentary (tak berpindah-pindah) atau duduk tanpa melakukan kegiatan fisik (seperti menonton TV, duduk di dalam mobil, atau menggunakan komputer) merupakan hal yang sulit untuk dihindari pada masa ini. Memang banyak orang yang kemudian berolahraga di pusat-pusat kebugaran jasmani untuk mengimbanginya.

Tim peneliti yang dipimpim Dr Emma Wilmot dari Universitas Leicester, mengatakan olahraga di pusat kebugaran dan kolam renang setelah bekerja memang lebih baik dari pada duduk kembali di sofa. Bagaimanapun, tambahnya, tetap saja duduk dalam waktu panjang berdampak buruk bagi kesehatan manusia.
Sementara itu lembaga pegiat penyakit kencing manis, Diabetes UK, menegaskan bahwa setiap orang yang duduk dalam waktu lama jelas akan mendapat keuntungan jika lebih banyak bergerak.

Bagaimanapun para peneliti tidak bisa secara pasti memberikan batas waktu yang tegas tentang berapa lama perilaku duduk yang berdampak buruk buat manusia. Penelitian yang dikaji menggunakan berbagai ukuran, antara lain mulai duduk sekitar 14 jam seminggu karena menonton TV, duduk kurang dari tiga jam sehari, maupun duduk lebih dari delapan jam sehari.

Yang jelas adalah bahwa mereka yang duduk lebih lama memikiki risiko lebih tinggi untuk kencing manis, penyakit jantung dan kematian dibanding mereka yang duduk lebih sedikit.

Peneliti dari Universitas Loughborough, Profesor Stuart Biddle, mengatakan bahwa walau banyak kegiatan di zaman modern yang tampaknya dilakukan dalam posisi duduk namun jelas bisa dikurangi.

"Kita bisa rapat sambil berdiri, berjalan ketika istirahat makan siang, atau mengurangi nonton TV pada malam hari untuk mengurangi durasi duduk," tuturnya.

Bagaimanapun dia mengatakan pergi ke tempat kebugaran tetap lebih baik dibanding langsung duduk menonton TV selepas kantor.

Sumber : http://jaringnews.com/hidup-sehat/umum/25380/terlalu-lama-duduk-sehatkah-

Kekurangan Vitamin B Ancam Kesehatan Mental Buah Hati




Siapa sih yang tidak mau melihat buah hati tumbuh menjadi anak yang ceria? Kalau buah hati ceria, itu indikator mereka memiliki perkembangan mental dan perilaku yang baik.

Memang sudah seharusnya orangtua memenuhi segala kebutuhan si kecil agar mereka selalu ceria dan bahagia. Tapi itu bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan eksternal saja. Faktor internal, seperti asupan makanan bervitamin tertentu juga memiliki peranan penting dalam perkembangan mental mereka. Vitamin yang dimaksud adalah vitamin B.
Seperti yang dilansir Medical Daily, sebuah penelitian yang dilakukan Telethon Institute for Child Health Research menemukan anak yang kekurangan asupan vitamin B memiliki kesehatan mental yang buruk. Tidak hanya itu saja, mereka juga terindikasi lebih mudah mengalami masalah perilaku.
Vitamin B 12 sangat diperlukan tubuh supaya sel darah dapat diproduksi dengan baik untuk menjaga fungsi otak dan menyatukan DNA. Menurut Carly Herbison, salah seorang peneliti,  vitamin B1, B2, B5, B6 dan folat adalah beberapa jenis vitamin B yang sangat esensial.
"Vitamin-vitamin B sangat berperan penting dalam produksi neurotransmitter, seperti serotonim, yang memodulasi perilaku pada manusia dan membantu menumbuhkan rasa senang," katanya.
Temuan tersebut berdasarkan hasil analisis ulang dokumen kesehatan mereka yang pernah berpartisipasi dalam penelitian West Australian Pregnancy Cohort (Reine).
Dalam penelitian tersebut terdapat catatan diet, termasuk asupan vitamin B. Youth Self Report (YSR), yang memiliki nilai perilaku anak, depresi, tindakan agresif dan kenakalan, digunakan untuk mengetahui kesehatan mental anak.
Temuan yang dipublikasikan di jurnal Preventive Medicine tentu saja menunjukkan bagaimana vitamin B dapat memengaruhi perilaku buah hati di masa depan.
"Ini adalah pesan yang bagus bagaimana diet dapat mengatasi masalah kesehatan mental. Lebih memerhatikan makanan yang anak kita makan dan memastikan meraka mendapat asupan vitamin B yang cukup dari makanan seperti kacang-kacangan, biji-bijian, serelia utuh, legume, buah dan sayuran dapat memberikan dampak positif dapat kesehatan mental dan kebahagian mereka," kata Profesor Wendy Oddy, pemimpin studi ini.
Selain buah-buahan dan sayur-mayur, vitamin B juga dapat ditemukan dalam ikan, ayam, daging dan produk susu.
Kate Carnell dari Beyondblue mengingatkan asupan vitamin B juga harus diimbangi dengan olahraga yang cukup setiap hari, setidaknya 30 menit sehari. "Adalah hal yang penting buat Anda untuk memiliki fisik dan mental yang sehat, khususnya di masa pertumbuhan," katanya. (Daniel Ngantung)
Sumber : http://www.tribunnews.com/2012/10/08/kekurangan-vitamin-b-ancam-kesehatan-mental-buah-hati

Dokter vs Perawat: Siapa yang Lebih Sehat?


AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Kamis, 11/10/2012 16:12 WIB




Jakarta, Karena sama-sama bekerja di bidang kesehatan, dokter dan perawat menarik untuk dibandingkan. Mana yang lebih sehat antara dokter yang sering kebanyakan teori soal tips-tips hidup sehat, ataukah perawat yang lebih kelihatan praktiknya?

Hasil penelitian yang dilakukan Gallup-Healthways terhadap sejumlah orang dewasa di Amerika Serikat menunjukkan perbandingan tingkat kesehatan pada orang dewasa dengan berbagai profesi. Dokter dan perawat termasuk dalam profesi yang dibanding-bandingkan.

Secara umum, penelitian ini mencatat bahwa dokter memiliki indeks perilaku hidup sehat lebih tinggi yakni 86. Perawat yang sama-sama bekerja untuk menyehatkan orang sakit, indeks perilaku hidup sehatnya hanya tercatat 80 padahal profesi lain justru mencapai 81.

"Sebagai pemberi layanan kesehatan yang paling utama, dokter memainkan peran penting untuk menolong orang dalam memahami cara hidup sehat," tulis para peneliti dalam laporan ilmiahnya, seperti dikutip dari Huffingtonpost, Kamis (11/10/2012).

Tanpa bermaksud menghakimi salah satu profesi, apalagi memang tidak bisa digeneralisasi karena penelitiannya dilakukan di luar negeri, berikut ini beberapa detail temuan dalam penelitian tersebut.

1. Merokok
Survei menunjukkan hanya 4 persen dokter yang merokok, sedangkan di kalangan perawat angkanya 15 persen. Sebagai pembanding, di kelompok profesi lain ada 20 persen orang dewasa punya kebiasaan merokok.

2. Olahraga
Hampir 60 persen dokter mengaku punya kebiasaan berolahraga selama 1,5 jam sebanyak 3 kali seminggu. Kebiasaan serupa dilakukan oleh 55 persen perawat dan hanya 4 persen orang dewasa dengan profesi lain.

3. Makan sehat
Hanya 66 persen dokter yang mengaku mengonsumsi makanan sehat setiap hari, sementara di kelompok perawat lebih sedikit lagi yakni 59 persen. Padahal di kelompok orang dewasa dengan profesi lain, angkanya mencapai 62 persen.

4. Makan buah dan sayur
Dalam satu hal, dokter kalah dari perawat yakni untuk urusan makan buah dan sayur. 64 persen perawat memenuhi kebutuhan 5 porsi buah dan sayuran tiap hari minimal dalam 4 kali dalam sepekan, sedangkan di kelompok dokter hanya 60 persen. Di kelompok profesi lain, angkanya 55 persen.

Apakah itu berarti dokter-dokter lebih sehat dari perawat? Belum tentu.

Sepintas perbandingan ini memang menunjukkan bahwa dokter lebih sehat gaya hidupnya. Namun setelah dibandingkan dengan faktor lain seperti tingkat pendidikan, para peneliti menilai dokter hanya unggul secara signifikan dalam satu hal yakni lebih sedikit yang merokok.

Sumber : http://health.detik.com/read/2012/10/11/161209/2060330/763/dokter-vs-perawat-siapa-yang-lebih-sehat