Sabtu, 03 November 2012

Pertolongan Pertama pada Perdarahan


Putro Agus Harnowo - detikHealth
Rabu, 24/10/2012 13:32 WIB



Jakarta, Ada 2 tipe perdarahan, yaitu perdarahan yang berasal dari pembuluh darah vena dan perdarahan yang berasal dari pembuluh darah arteri. Perdarahan pada pembuluh darah vena berwarna agak gelap dan mengalir secara spontan. Sedangkan perdarahan dari pembuluh darah arteri warnanya lebih terang dan alirannya memancar dari tubuh yang terluka.

Perdarahan pada arteri dapat menyebabkan kondisi kritis, sebab darah yang terpompa keluar dengan kecepatan melebihi rata-rata. Akibatnya, korban akan banyak kehilangan darah.

Menurut Stanley M. Zildo seperti dikutip dari bukunya yang berjudul 'First Aid, Cara Benar Pertolongan Pertama dan Penanganan Darurat', menekan langsung pada daerah yang terluka adalah salah tindakan yang dapat dilakukan untuk menghentikan perdarahan, walaupun menyebabkan rasa sakit pada bagian tersebut.

Cara penekanan yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:

1. Letakkan kain tebal yang bersih atau steril seperti saputangan, potongan handuk atau lembaran kain langsung pada area yang terluka. Kemudian tekan perlahan dengan telapak tangan Anda. Apabila tidak ada kain, gunakan tangan atau jari untuk menekan.

2. Teruskan menekan dengan tekanan konstan.

3. Jangan melepaskan kain yang digunakan untuk menekan luka.

4. Apabila darah telah memenuhi kain, jangan dilepas, tetapi tambahkan dengan kain baru dan letakkan di atasnya. Kemudian lanjutkan lagi menahannya dengan tangan Anda.

5. Apabila perdarahan terhenti atau berkurang, gunakan perban untuk diikatkan pada kain penutup luka.

6. Tali perban jangan terlalu kencang untuk menghindari aliran darah arteri terhenti.

7. Usahakan luka pada posisi di atas organ jantung.

Sumber : http://health.detik.com/read/2012/10/24/133239/2071624/1407/pertolongan-pertama-pada-perdarahan?l991105755

Aneurisma Aorta Abdominalis


Deskripsi 

Pada penyakit ini terjadi penggelembungan di aorta yang melewati perut. Penyakit yang satu ini merupakan penyakit keturunan.



Penyebab 

Penyebabnya adalah infeksi, kelainan bawaan pada jaringan ikat yang membentuk dinding arteri, selain adanya trauma. Pada anak-anak biasanya diakibatkan cedera tumpul pada perut atau akibat sindrom marfan (kelainan yang mengenai jaringan ikat. Biasanya ditandai dengan langit-langit lidah yang tinggi dan organ tubuh yang menjadi lebih panjang). Aneurisma yang besarnya sampai dengan 5 cm, sangat mungkin akan pecah. Pecahnya gelembung ini bisa menyebabkan pendarahan hebat dalam rongga perut.

Gejala 

Gejala yang ditimbulkan biasanya rasa nyeri dan ada denyutan di perut. Nyeri ini rasanya menusuk sampai punggung dan biasanya menetap. Pada pendarahan yang berat, orang tersebut bisa sampai syok.

Pengobatan 

Pengobatan yang bisa dilakukan adalah dengan pembedahan. Risiko lain bila aneurisma aorta abdominalis ini sampai pecah adalah terjadinya gangguan pada ginjal. Bila dibiarkan saja atau tidak segera diambil tindakan, maka kemungkinan terburuk yaitu kematian bisa terjadi.




Sumber : http://health.detik.com/readpenyakit/15/aneurisma-aorta-abdominalis?mode_op=deskripsi

BPOM Cek Mi Instan dari Korsel yang Diduga Mengandung Zat Pemicu Kanker


Nurvita Indarini - detikHealth
Sabtu, 03/11/2012 09:58 WIB



Jakarta, Mi instan asal Korea Selatan (Korsel) yang beredar di Filipina ditengarai mengandung bahan kimia yang memicu penyakit kanker. Terkait hal ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pun bersikap pro aktif dengan mengecek adakah kandungan zat berbahaya itu di dalam mi instan tersebut.

"Kita sedang mengambil sampel dan kita uji," ujar Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya Badan POM RI, Dr Roy Sparringa, saat dihubungi detikHealthdan ditulis pada Sabtu (3/11/2012).

Roy mengatakan pihaknya bertindak pro aktif setelah mendengar kabar Badan Makanan dan Obat-obatan (FDA) Filipina menyatakan ada 6 merek mi instan asal Korsel, terutama yang diproduksi oleh Nongshim Co, akan ditarik dari peredaran.

Apakah ada banyak mi instan yang diproduksi Nongshim Co beredar di pasaran Indonesia? "Saya belum bisa sampaikan ada banyak atau tidak. Yang jelas kami proaktif, kami ambil sampel dan kita uji," tuturnya.

Dia menerangkan BPOM selalu mengambil sampel dan melakukan pengujian terhadap makanan yang menjadi perhatian mengandung zat berbahaya. Namun untuk pengujian itu tentunya butuh waktu.

"Tentu tidak secepat itu, memang butuh waktu," imbuh Roy.

Menurut FDA, otoritas Korsel juga menemukan ada 6 merek mi instan yang terkontaminasi zat kimia. Hasil uji laboratorium menyatakan produk-produk tersebut mengandung 'benzopyrene', sejenis zat kimia yang memiliki potensi karsinogenik atau bisa menimbulkan penyakit kanker.

Dalam pernyataan FDA tidak dijelaskan apakah otoritas Filipina juga melakukan pengujian terhadap produk-produk tersebut. Seperti dilansir AFP, Jumat (2/11) kemarin, pihak FDA tidak bisa dihubungi untuk dikonfirmasi soal hal ini.

Diketahui bahwa sejumlah negara lain, seperti China, Taiwan, dan Vietnam juga telah melakukan penarikan produk-produk asal Korsel tersebut.

Sumber : http://health.detik.com/read/2012/11/03/095806/2080432/763/bpom-cek-mi-instan-dari-korsel-yang-diduga-mengandung-zat-pemicu-kanker

Bidan Listiyani & Inisiatif Sumur Bor untuk Kurangi Kematian Ibu dan Bayi


Vera Farah Bararah - detikHealth
Sabtu, 03/11/2012 14:00 WIB




Yogyakarta, Tak jarang bidan Listiyani Ritawati kadang menangis di tengah malam saat membantu persalinan karena tidak ada air bersih. Kondisi ini membuat bidan Listiyani berinisiatif membuat sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air bersih serta membantu turunkan angka kematian ibu dan bayi.

"Pernah malam-malam saat membantu proses persalinan air habis, saya harus mencari air bersih sampai saya menangis," ujar bidan Listiyani
dalam acara Jelajah Gizi Sarihusada di Desa Sambirejo, Gunung Kidul, Yogyakarta, Jumat (2/11/2012).

Bidan Listiyani menuturkan pada tahun 2003-2004 sulit mendapatkan air bersih. Bahkan kadang saat akan buang air kecil saja harus membeli air mineral kemasan, apalagi untuk mandi atau proses persalinan. Padahal air yang bersih ini sangat dibutuhkan untuk kesehatan.

Kondisi yang tidak ada air ini membuat ibu yang sedang hamil harus berjalan jauh atau naik sepeda demi bisa mendapatkan air. Mengingat sebagian besar suami ibu hamil tersebut merantau, jadi mereka harus mencari air bersih sendiri. Hal ini menimbulkan risiko yang tinggi bagi ibu hamil untuk terjatuh atau kecapaian sehingga bisa memicu pendarahan dan kelahiran prematur. Apalagi rumah sakit jauh dan perlu waktu satu jam, sehingga berisiko kematian.

Selain itu, jika bayi yang dilahirkan tidak mendapat air bersih yang cukup untuk cuci tangan atau serba kotor dapat menyebabkan diare terus menerus. Bila hal ini dibiarkan menyebabkan berat badan bayi terus turun dan mengalami gizi buruk.

"Dulu saat di Temanggung air banyak, tapi di sini air susah. Selama bertahun-tahun air susah sampai mau nangis. Kadang ingin pindah lagi ke Temanggung, tapi kalau saya pergi berarti meninggalkan orang-orang yang telantar dengan air bersih," paparnya.

Bidan Listiyani menceritakan dulu ia sempat menggali sumur hingga kedalaman 4 meter dan menghabiskan biaya sampai 4 juta rupiah, tapi tetap tidak dapat air. Maklum butuh kedalaman hingga 80 meter agar air tanah bisa diperoleh, dan itu tentunya membutuhkan biaya yang besar.

Situasi ini membuat bidan Listiyani berinisiatif membuat sumur bor untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih di lingkungan sekitarnya. Inisiatif ini muncul pada tahun 2009, sekaligus ide ini membuatnya berhasil memenangkan Srikandi Award 2009. Melalui program Pos Bhakti Bidan (Program sosial kerja sama Sarihusada dan Ikatan Bidan Indonesia) pembuatan sumur bor pun terwujud.

"Air itu sangat bermanfaat banget. Alhamdulillah sekarang ada kita sebutnya PDAM lokal karena bisa digunakan oleh masyarakat," ujar bidan kelahiran Banjarnegara, 29 Juni 1974 tersebut.

Bidan Listiyani menuturkan seorang bidan itu tidak harus mengembangkan seputar persalinan dan ibu hamil saja, tapi keadaan di sekitar desa juga ikut ambil peran seperti halnya dalam menurunkan angka kematian ibu dan juga bayi. Salah satunya adalah dengan pembutan sumur bor sehingga kebutuhan air bersih untuk proses persalinan dan juga perawatan bayi tersedia.

Menurutnya sebelum tahun 2009 masih ada angka kematian ibu dan bayi, tapi setelah tahun 2009 jumlahnya berkurang dan bahkan tidak ada. Hal ini menunjukkan dengan adanya sumur dan ketersediaan air bersih turut menurunkan angka kesakitan dan mortalitas.

Air bersih dari sumur bor merupakan sumber utama dari masyarakat terutama di desa Sambirejo, Gunung Kidul, Yogyakarta. Ini karena dulunya masyarakat harus menempuh jarak kurang lebih 2 km ke arah gunung dan harus mengantre bahkan sampai tengah malam untuk mendapatkan akses air bersih.

Bidan Listiyani berharap nantinya dapat memperluas jaringan air bersih ini ke beberapa rumah penduduk lainnya karena belum semuanya terjangkau. Dia pun berharap ada tower permanen sehingga dapat menurunkan beban biaya listrik.

Sumber : http://health.detik.com/read/2012/11/03/140048/2080542/763/bidan-listiyani-inisiatif-sumur-bor-untuk-kurangi-kematian-ibu-dan-bayi?l992205755

ASUPAN IODIUM TIDAK HANYA BERASAL DARI GARAM


Jakarta, 23 Oktober 2012
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan RI, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), MARS, DTM&H, DTCE, membuka 10th Asia Oceania Thyroid Association Conggress, di Bali (21/10).
“Program penanggulangan penyakit yang berhubungan dengan tiroid merupakan salah satu kegiatan pengendalian penyakit tidak menular. Salah satu penyebab tiroid ini dikarenakan kekurangan yodium dan gangguan autoimun”, ujar Prof. Tjandra.
Menurut data Riskesdas 2007 rata-rata kadar iodium dalam urine yang telah diukur pada populasi sebesar 224/µ gr/ltr dan merujuk pada riskesdas 2010 telah terjadi peningkatan di tahun 2011 sebanyak 229µ/ltr.
Angka cakupan pemberian garam beriodium pada tahun 1992 sebesar 40%, dan terdapat 15% penderita gondok non toksik. Tercatat pula cakupan populasi yang telah mengkonsumsi garam beriodium  sebesar 70-90% dan penderita gondok sebesar <5% pada tahun 2011.
“Asupan iodium tidak hanya berasal dari garam saja, namun juga dapat di peroleh dari pangan olahan”, tambah Prof. Tjandra
Upaya pemerintah dalam menekan angka penyakit tidak menular ini dengan memberikan garam beriodium, berstandar SNI yang akan ditangani oleh Kementerian Perindustrian dan mengadakan penilaian kadar iodium dalam tubuh manusia pada populasi yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan.
Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jendral Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: (021)52907416-9, faksimili: (021)52921669, Pusat Tanggap Respon Cepat (PTRC): <kode lokal> 500-567 dan 081281562620 (sms), atau e-mail kontak@depkes.go.id

Sumber : http://depkes.go.id/index.php/berita/press-release/2095-asupan-iodium-tidak-hanya-berasal-dari-garam.html